Senin, 21 Maret 2016



A.    PENDAHULUAN    
Mahasiswa merupakan individu yang memasuki masa kuliah. Masa mahasiswa tergolong ke dalam kelompok remaja yang meliputi rentang umur 18/19 tahun sampai 24/25 tahun. Remaja adalah laki-laki atau perempuan yang belum kawin dengan batasan usia meliputi 15-24 tahun. Masa remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak dan masadewasa yang diwarnai oleh pertumbuhan, perubahan, muncul berbagai kesempatan dan seringkali menghadapi resikp-resiko kesehatan reproduksi.
Hasil kajian BBKBN tahun 2010 mengatakan bahwa rata-rata dari 100 remaja di wilayah Jabodetabek, sekitar 54% pernah melakukan hubungan seksual pranikah. Kejadian seks pranikah di Surabaya mencapai 47%, di Bandung dan Medan 52%. Perilaku seks bebas dikalangan remaja berefek pada kasus infeksi penularan HIV/AIDS yang cenderung berkembang di Indonesia. Fenomena seks bbebas ditemukan pada kelompok remaja yang kuliah, hal ini sejalan dengan pernyataan bahwa mahasiswi di Yogyakarta dari 1.660 responden sekitar 37% mengaku sudah kehilangan kegadisannya. Terjadi kehamilan rata-rata 17% per tahun (kehamilan yang tidak diinginkan), sebagian dari jumlah tersebut bermuara pada praktik aborsi. Grafik aborsi di Indonesia termasuk kateegori cukup tinggi dengan jumlah rata-rata per tahun mencapai 2,4 jiwa.
LSM Sahara Indonesia melakukan polling di kota Bandung dan hasilnya 44,8% mahasiswi dan juga remaja kota Bandung sudah pernah melakukan hubungan intim. Mahasiswi yang berjumlah 1000 orang dan polling yang dilakukan LSM Sahara Indonesia dari tahun 2000 sampai dengan 2002, diketahui bahwa tempat yang paling sering untuk melakukan hubungan seks yaitu di rumah kos (51,5%); menyusul rumah-rumah pribadi (sekitar 30%); rumah wanita (27,3%); hotel atau wisma (11,2%); taman luas (2,5%); tempat rekreasi dan bersantai (2,4%); seks di ruangan kelas di kampus Bandung (1,3%); dalam mobil goyang (0,4%) dan lain-lain tidak diketahui (0,7%). Responden mengaku bahwa perilaku seksual ini terjadi tanpa paksaan dan adanya rasa kebutuhan, serta telah aktif melakukan hubungan seksual lebih dari satu orang pasangan.


B.     PEMBAHASAN
Perilaku seksual pranikah pada remaja diantaranya dari 138 remaja putri terdapat 57 orang (41,3%) melakukan berciuman bibir dengan pasangannya. 23 orang (16,7%) melakukan berciuman pipi. Dua orang (1,4%) tidak melakukan perilaku seksual dalam berpacaran. Ciuman bibir merupakan perilaku seksual yang paling banyak dilakukan oleh partisipan. Hasil penelitian yang sama diungkapkan oleh Darmasih (2009) bahwa bentuk perilaku seksual pranikah remaja SMA di Surakarta adalah melakukan berciumanbibir sebanyak 93 orang (81,6%), masturbasi sebanyak 23 orang (20,2%), menonton video porno sebanyak 101 orang (88,6%) dan hubungan seksual sebanyak (5,2%). Perilaku pranikah pada remaja SMA di Surakarta menunjukkan sebagian besar perilaku seks pranikah remaja dalam kategori baik yaitu sebanyak 50 orang (43,9%), kategori sedang sebanyak 46 orang (40,4%), dan kategori buruk sebanyak 18 orang (15,8%).
Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran. Di dalam pikiran terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidup individu (Hanson, 2005; Wang, 2007). Program ini kemudian membentuk suatu sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikir yang dapat mempengaruhi perilaku. Jika program yang tertanam sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilaku akan berjalan selaras dengan hukum alam dan hasilnya membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilaku individu akan membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Perilaku seksual tidak sesuai toleransi berdampak terhadap masa depan responden karena dapat terjadi kehamilan di luar nikah dan PMS termasuk HIV/AIDS. Karakter responden harus dibentuk dan dikelola, karena masing-masing karakter memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat berdampak buruk terhadap perilaku. Untuk itu diperlukan pendampingan oleh orang dewasa (orang tua dan dosen) untuk melakukan pendekatan dan memberikan bimbingan berkaitan dengan pembentukan karakter mahasiswa, mengelola kelebihan dan kekurangan masing-masing karakter.Secara sederhana, fokus pendidikan ada tiga yaitu membangun pengetahuan, membangun keterampilan (skill) dan membangun karakter. Dari ketiga elemen pendidikan intinya hanya satu yakni berbasis “karakter”. Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun karakter (character building) anak didik. Karakter merupakan standar-standar batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Karakter diri dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan terwujud di dalam perilaku.
Interaksi antar teman sebaya dapat memprediksi variabel intensi perilaku seks pranikah. Intensi perilaku seks pranikah dapat dipengaruhi oleh interaksi teman sebaya. Asumsi bahwa peran teman sebaya tidak mempengaruhi perilaku seksual pranikah oleh karena mahasiswa sudah memiliki pendapat sendiri dan dapat ber-argumen menggunakan fikirannya sendiri sehingga tidak dapat lagi tergantung pada kelompok teman sebaya serta sudah mulai dapat bertanggung jawab terhadap diri sendiri termasuk segala bentuk perilaku yang dilakukan.
Pemantauan orangtua memiliki dampak yang lebih lemah untuk perilaku seksual remaja daripada pengaruh teman sebaya, oleh karena itu, perlu bagi orangtua untuk mendekati remaja mereka dan memberi mereka pendidikan seks dalam rangka untuk memberi mereka pemahaman yang lebih baik. Hasil penelitian di atas berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmasih (2009), Peranan keluarga mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap perilaku seks pranikah pada remaja SMA di Surakarta. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa semakin tinggi peran keluarga pada remaja, maka perilaku seks pranikah remaja semakin baik dan sebaliknya.

C.    PENUTUP
Perilaku seksual pranikah mahasiswa di STIKes Medistra Indonesia dipengaruhi oleh faktor karakter, konsep diri, dan sikap. Keterbatasan penelitian ini adalah belum mempertimbangkan pengaruh dari variabel lingkungan di luar individu mahasiswa. Selain itu, belum dilakukannya analisis secara kuantitatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar