A.
PENDAHULUAN
Mahasiswa merupakan individu yang memasuki masa
kuliah. Masa mahasiswa tergolong ke dalam kelompok remaja yang meliputi rentang
umur 18/19 tahun sampai 24/25 tahun. Remaja adalah laki-laki atau perempuan
yang belum kawin dengan batasan usia meliputi 15-24 tahun. Masa remaja
merupakan periode transisi antara masa anak-anak dan masadewasa yang diwarnai
oleh pertumbuhan, perubahan, muncul berbagai kesempatan dan seringkali
menghadapi resikp-resiko kesehatan reproduksi.
Hasil kajian BBKBN tahun 2010 mengatakan bahwa
rata-rata dari 100 remaja di wilayah Jabodetabek, sekitar 54% pernah melakukan
hubungan seksual pranikah. Kejadian seks pranikah di Surabaya mencapai 47%, di
Bandung dan Medan 52%. Perilaku seks bebas dikalangan remaja berefek pada kasus
infeksi penularan HIV/AIDS yang cenderung berkembang di Indonesia. Fenomena
seks bbebas ditemukan pada kelompok remaja yang kuliah, hal ini sejalan dengan
pernyataan bahwa mahasiswi di Yogyakarta dari 1.660 responden sekitar 37%
mengaku sudah kehilangan kegadisannya. Terjadi kehamilan rata-rata 17% per
tahun (kehamilan yang tidak diinginkan), sebagian dari jumlah tersebut bermuara
pada praktik aborsi. Grafik aborsi di Indonesia termasuk kateegori cukup tinggi
dengan jumlah rata-rata per tahun mencapai 2,4 jiwa.
LSM Sahara Indonesia melakukan polling di kota Bandung dan hasilnya 44,8%
mahasiswi dan juga remaja kota Bandung sudah pernah melakukan hubungan intim.
Mahasiswi yang berjumlah 1000 orang dan polling yang dilakukan LSM Sahara
Indonesia dari tahun 2000 sampai dengan 2002, diketahui bahwa tempat yang
paling sering untuk melakukan hubungan seks yaitu di rumah kos (51,5%);
menyusul rumah-rumah pribadi (sekitar 30%); rumah wanita (27,3%); hotel atau wisma
(11,2%); taman luas (2,5%); tempat rekreasi dan bersantai (2,4%); seks di
ruangan kelas di kampus Bandung (1,3%); dalam mobil goyang (0,4%) dan lain-lain
tidak diketahui (0,7%). Responden mengaku bahwa perilaku seksual ini terjadi
tanpa paksaan dan adanya rasa kebutuhan, serta telah aktif melakukan hubungan
seksual lebih dari satu orang pasangan.
B.
PEMBAHASAN
Perilaku seksual pranikah pada remaja diantaranya dari 138 remaja putri
terdapat 57 orang (41,3%) melakukan berciuman bibir dengan pasangannya. 23
orang (16,7%) melakukan berciuman pipi. Dua orang (1,4%) tidak melakukan
perilaku seksual dalam berpacaran. Ciuman bibir merupakan perilaku seksual yang
paling banyak dilakukan oleh partisipan. Hasil penelitian yang sama diungkapkan
oleh Darmasih (2009) bahwa bentuk perilaku seksual pranikah remaja SMA di Surakarta
adalah melakukan berciumanbibir sebanyak 93 orang (81,6%), masturbasi sebanyak
23 orang (20,2%), menonton video porno sebanyak 101 orang (88,6%) dan hubungan
seksual sebanyak (5,2%). Perilaku pranikah pada remaja SMA di Surakarta
menunjukkan sebagian besar perilaku seks pranikah remaja dalam kategori baik
yaitu sebanyak 50 orang (43,9%), kategori sedang sebanyak 46 orang (40,4%), dan
kategori buruk sebanyak 18 orang (15,8%).
Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran. Di dalam pikiran
terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidup individu (Hanson,
2005; Wang, 2007). Program ini kemudian membentuk suatu sistem kepercayaan yang
akhirnya dapat membentuk pola berpikir yang dapat mempengaruhi perilaku. Jika
program yang tertanam sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka
perilaku akan berjalan selaras dengan hukum alam dan hasilnya membawa
ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai
dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilaku individu akan membawa
kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Perilaku seksual tidak sesuai toleransi
berdampak terhadap masa depan responden karena dapat terjadi kehamilan di luar
nikah dan PMS termasuk HIV/AIDS. Karakter responden harus dibentuk dan
dikelola, karena masing-masing karakter memiliki kelebihan dan kekurangan yang
dapat berdampak buruk terhadap perilaku. Untuk itu diperlukan pendampingan oleh
orang dewasa (orang tua dan dosen) untuk melakukan pendekatan dan memberikan
bimbingan berkaitan dengan pembentukan karakter mahasiswa, mengelola kelebihan
dan kekurangan masing-masing karakter.Secara sederhana, fokus pendidikan ada
tiga yaitu membangun pengetahuan, membangun keterampilan (skill) dan membangun
karakter. Dari ketiga elemen pendidikan intinya hanya satu yakni berbasis
“karakter”. Salah satu poin penting dari tugas pendidikan adalah membangun
karakter (character building) anak didik. Karakter merupakan standar-standar
batin yang terimplementasi dalam berbagai bentuk kualitas diri. Karakter diri
dilandasi nilai-nilai serta cara berpikir berdasarkan nilai-nilai tersebut dan
terwujud di dalam perilaku.
Interaksi antar teman sebaya dapat memprediksi variabel intensi perilaku seks
pranikah. Intensi perilaku seks pranikah dapat dipengaruhi oleh interaksi teman
sebaya. Asumsi bahwa peran teman sebaya tidak mempengaruhi perilaku seksual
pranikah oleh karena mahasiswa sudah memiliki pendapat sendiri dan dapat
ber-argumen menggunakan fikirannya sendiri sehingga tidak dapat lagi tergantung
pada kelompok teman sebaya serta sudah mulai dapat bertanggung jawab terhadap
diri sendiri termasuk segala bentuk perilaku yang dilakukan.
Pemantauan orangtua memiliki dampak yang lebih lemah untuk perilaku seksual
remaja daripada pengaruh teman sebaya, oleh karena itu, perlu bagi orangtua
untuk mendekati remaja mereka dan memberi mereka pendidikan seks dalam rangka
untuk memberi mereka pemahaman yang lebih baik. Hasil penelitian di atas
berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Darmasih (2009),
Peranan keluarga mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap perilaku seks pranikah
pada remaja SMA di Surakarta. Berdasarkan hasil tersebut dapat dinyatakan bahwa
semakin tinggi peran keluarga pada remaja, maka perilaku seks pranikah remaja
semakin baik dan sebaliknya.
C.
PENUTUP
Perilaku seksual pranikah mahasiswa di STIKes Medistra
Indonesia dipengaruhi oleh faktor karakter, konsep diri, dan sikap.
Keterbatasan penelitian ini adalah belum mempertimbangkan pengaruh dari
variabel lingkungan di luar individu mahasiswa. Selain itu, belum dilakukannya
analisis secara kuantitatif.